by

Tikungan 10, Tikungan Tertajam di Sirkuit MotoGP Mandalika

Sirkuit MotoGP Mandalika kini sudah 42,98 persen. Para pekerja di sana berjibaku selama 24 jam nonstop. Sirkuit sudah harus rampung pada Juni, sehingga bisa menjadi tuan rumah MotoGP Oktober. Bulan depan, Dorna akan datang melakukan inspeksi secara langsung. Sebelum penyelenggara MotoGP datang, Lombok Post mendapat kesempatan terlebih dahulu menjajal sirkuit. Bagaimana situasinya?

Bukan sembarang orang bisa masuk areal pembangunan sirkuit MotoGP Mandalika. Otorisasi harus dikantongi dari Mandalika Grand Prix Association atau MGPA. Terlalu banyak pekerjaan yang sangat teknis dan spesifik sedang dituntaskan di sana. Terlebih, semua memang sedang berpacu dengan waktu.

Memang hanya tinggal hitungan bulan. Sirkuit jalan raya MotoGP pertama di dunia tersebut harus rampung total pada Juni. Itu berarti lima bulan lagi. Per bulan ini, sirkuit sepanjang 4,31 kilometer ini progresnya sudah di angka 42,98 persen.

Saat ini, pekerjaan yang sudah rampung di sana adalah pengaspalan service road mencapai 1.450 meter, pemasangan drainase, pengerjaan tunnel dan pembangunan dinding penahan tanah.

Sirkuit Mandalika memiliki 17 tikungan. Terdiri dari 11 tikungan ke arah kanan dan 6 tikungan ke arah kiri. ITDC menyebut, tikungan yang paling tajam, ada pada tikungan ke 10. Hmm, ini akan menjadi tikungan paling favorit bagi para rider. Termasuk yang aksinya paling dinanti tentu saja Valentino Rossi, yang tahun ini akan membalap untuk tim Satelit Yamaha dan kemungkinan akan menjadi tahun terakhirnya di ajang balap motor paling akbar di dunia ini. Selebihnya, di luar tikungan 10, adalah merupakan tikungan landai.

Kemarin, Lombok Post pun mencoba menjajal sirkuit Mandalika. Tentu saja dari pinggir lintasan. Pengelola tidak membenarkan siapapun yang tidak berkepentingan untuk berkendara di atas sirkuit yang sedang dalam proses pelapisan pondasi atas. Termasuk Lombok Post.

Menjajal sirkuit pun bukan dengan sepeda motor balap. Namun dengan kendaraan roda empat. Ngebut? Hehehe,,, Anda tahu, sekarang hal tersebut masih jadi aksi yang dilarang di sana.

Perjalanan kami mulai dari tikungan 16. Tepatnya di depan SPBU Mandalika. SPBU itu sendiri dibangun oleh ITDC, pengelola Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika. Sudah pasti, selain pekerja, dilarang masuk ke sirkuit. Dikhawatirkan malah mengganggu para pekerja yang lagi konsetrasi penuh di sana.

Para pekerja itu harus tetap bekerja. Dari pagi sampai pagi lagi. Maksudnya pekerjaan tiada henti. Tentu para pekerja bekerja dengan shift. Bergiliran. Saat bekerja, jam istirahat pun tak banyak untuk mereka. Jam istirahat disiapkan harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk makan dan salat.

Untuk makanan, para pekerja pun tidak diperkenankan mencari ke luar. Melainkan sudah disiapkan. Dan ada diantarkan langsung ke titik tempat mereka bekerja. Ada petugas khusus yang melakukannya.

Saat kendaraan Lombok Post masuk ke tikungan ke sembilan, terlihat satu kendaraan roda dua yang masuk arena sirkuit. Kami pun berhenti. Siapa gerangan pengendara nekat itu? Petugas keamanan pun membiarkannya lewat dengan takzim. Oalah, setelah dilihat dari dekat, ternyata pengendara sepeda motor tersebut adalah petugas pengantar makanan untuk para operator alat berat. Saat itu, waktu makan siang memang sudah tiba.

Para operator alat berat tersebut menikmati santap siang mereka dari dalam kabin alat berat yang dioperasikannya. Mereka tidak keluar. Begitu selesai santap siang, mereka kembali mengoperasikan alat beratnya masing-masing, sebelum nanti akan beristirahat sejenak untuk menunaikan salat. Begitu seterusnya. Setiap hari.

Perjalanan menyusuri sirkuit terus berlanjut. Laju kendaraan harus pelan-pelan. Kali ini memasuki trek yang masih berlumpur dan berlubang. Bahkan, ada satu akses jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan roda empat dari pinggir lintasan. Celingak-celinguk sebentar, Lombok Post pun nekat mengarahkan kendaraan masuk sirkuit. Tepatnya di tikungan pertama sirkuit.

Lha, belum lama aksi tersebut kami lakukan, salah satu pekerja dengan menggunakan motor datang menghampiri dan meminta kendaraan keluar dari sirkuit. Bukan apa-apa. Itu semua juga demi keselamatan kami. Soalnya, di badan sirkuit, banyak lalu lalang alat berat dan kendaraan angkut yang sarat dengan material berat-berat.

Kami berhenti sejenak di tikungan pertama tersebut. Sebentar lagi di sana, akan dibangun tempat duduk penonton. Kapasitasnya mencapai 50.000 penonton. Itu kemungkinan akan menjadi titik start dan finish bagi para rider.

Selain tribun utama tersebut, nantinya sirkuit ini akan memiliki tribun penonton yang tidak menggunakan kursi. Kapasitasnya 138.000 penonton. Sementara area paddock, mampu menampung 40 tim balap.

Di bagian tengah sirkuit juga akan tersetia hospitality suites dengan kapasitas 7.700 orang. Mereka yang menginap di sini, akan dapat menikmati dahsyatnya ajang balap MotoGP cukup dari kamar tempat mereka menginap.

Perjalanan masih kami lanjutkan. Satu per satu tikungan kami lahap. Dalam hitungan kami, perjalanan menjajal seluruh sirkuit MotoGP ini menghabiskan waktu 46 menit. Sementara kalau nanti setelah resmi beroperasi, sirkuit ini dalam sekali putaran akan dilahap para pebalap kurang dari 1,5 menit saja.

Dan tibalah kami di tikungan 10. Ternyata benar. Tikungan ini menjadi tikungan paling tajam. Kelebihan tikungan ini, dari sini, penonton dan para rider yang sedang membalap bisa melihat langsung keindahan Pantai Seger dan sederetan perbukitan. Jaraknya sekitar 150 meter dari tepi pantai yang menjadi pusat pesta Bau Nyale tersebut.

Sudah terbayangkan betapa indahnya pemandangan dari tikungan ini. Tapi, para rider seperti Valentino Rossi, Marc Marquez, atau Rider Suzuki yang juara dunia MotoGP 2020 Joan Mir, tak boleh terlena dengan keindahan pemandangan tersebut manakala sedang membalap nanti. Jika itu terjadi, sudah pasti mereka akan disalip para rider di belakang mereka. Saat ini, tikungan 10 tersebut sudah diaspal hotmix lapis pondasi atas.

Begitu masuk tikungan 11 dan seterusnya, yang terlihat adalah masih dilakukan pengerasan material kerikil. Ada pula yang masih ditutup terpal khusus. Secara keseluruhan, badan sirkuit masih terpotong-potong. Mandalika Grand Prix Association selaku penanggungjawab pembangunan sirkuit dan urusan teknis balapan menargetkan Juni mendatang rampung total.

Chief Strategic Communication Officer MGPA Happy Harinto pada Lombok Post mengatakan, nyaris tiada kendala. Material aspal tetap tersedia. Sebab di sana, sudah berdiri aspal mixing plant. Kapasitasnya 2×200 ton per jam. Sehingga, aspal tidak kekurangan. Begitu dibutuhkan, tinggal diambil saja. Kemudian ditabur dan diratakan.

Untuk mengetahui tingkat kerataan hotmix, MGPA menggunakan alat khusus. Namanya GPS Topcon. “Selain tuan rumah MotoGP, kita juga dipercaya menjadi tuan rumah Superbike,” kata Happy.

Ajang balap motor WSBK, akan digelar pada 12-14 November. Lombok mendapat giliran ke-11 dari 12 negara penyelenggara Superbike di dunia.

Sementara itu, Vice President Construction and Stakeholder Relations Management ITDC Aris Joko Santoso mengatakan, bahan-bahan aspal didatangkan langsung dari Inggris. Sedangkan bahan-bahan drainase didatangkan dari Jerman, atau yang biasa digunakan di sirkuit lain di seluruh dunia.

“Untuk drainase proses pemasangannya dibutuhkan kehati-hatian dan ketelitian,” katanya. Apalagi, aspal. Kata Joko, prosesnya tidak boleh sepotong-potong seperti sekarang, tapi harus dikerjakan sekaligus, atau harus tuntas 24 jam.

Begitu lapis pondasi atas selesai, barulah pengaspalan sirkuit dilakukan. Tipe aspal yang digunakan jenis modifikasi. Didesain khusus untuk kebutuhan sirkuit. Baik dari sisi ketahanan terhadap gaya geser dan tekanan ban motor, maupun perubahan bentuk permukaan.

“Konstruksi sirkuit segera dicek Dorna. Menurut rencana bulan depan,” kata Joko.

News Feed